Novelss’s Blog

LUNA

Posted on: Juni 2, 2009

Luna

Oleh: Sienta Sasika Novel

Namanya Luna, dia kucing kampung dengan bulu berwarna hitam merata diseluruh tubuhnya. Luna sudah ada dirumah ku sejak aku duduk dikelas 5 SD, sekarang aku sudah duduk bangku kuliah semester akhir, semester 8. Aku menemukan Luna di bawah mobil papa ku, saat itu kucing kecil itu begitu lincah dan penakut, dia takut kepada manusia, tak mau disentuh dan selalu kabur saat aku mencoba untuk mendekatinya.

Aku mencoba menangkapnya dengan memberikan ikan goreng, kucing kecil hitam itu akhirnya bisa aku tangkap, lalu aku masukan ke dalam rumah sebagai cara untuk mendekatnya dengan ku. Aku adalah pencinta binatang, aku begitu mencintai banyak binatang, aku sering menangis bila menonton film yang ada hubungannya dengan binatang, terutama kejahatan terhadap binatang. Aku tak mengerti mengapa banyak orang begitu tega memukul bahkan menyiksa binatang yang sama sekali tak berdosa. Aku pun benci kepada orang-orang yang merusak lingkungan tempat tinggal binatang hanya untuk beberapa tumpuk uang!! Dimana hati mereka? dimana rasa belas kasihan mereka ketika menatap mata binatang-binatang yang begitu polos dan tak berdosa itu. Tuhan menciptakan binatang bukan untuk disakiti tapi untuk kita sayangi. Itu sebabnya mengapa aku punya perasaan yang begitu sensitif.

Keberhasilan ku membawa kucing hitam itu ke dalam rumah membuatnya jadi sering berkunjung ke rumah ku. Lalu aku memberinya nama “LUNA” karena dia mirip kucing hitam di film Sailormoon. Film favorit ku pada saat itu, aku begitu mencintai peran “Usagi Tsukino” sampai aku ingin menjadi seperti dia, termasuk memiliki kucing hitam yang bernama Luna.

Lama kelamaan dia mau bermalam di dalam rumah, sifatnya yang galak dan jutek membuat ku makin sayang kepadanya. Dia hanya mau berdekatan dengan ku, dia tak mau dipegang orang lain kecuali aku. Dia gampang sekali tersinggung dan dia sering sekali mencakar dan menggigitku, tapi aku tak pernah bisa marah dan aku selalu menyayanginya.

Aku sering melihat dia bermain-main dengan tali, mengejar-ngejar bola, bahkan bergelantungan dengan cakarnya di gorden rumah. Luna begitu aktif dan menjadi idaman kucing-kucing betina didaerah sekitar rumah ku. Bila masa kawin tiba, beberapa hari Luna tidak pulang, dia sibuk merayu betina untuk diajak kawin. Tiga atau empat hari kemudian dia pulang dan selalu bercerita kepada ku. Saat pintu pertama kali dibuka dia langsung mengeong tanpa berhenti.

“Meaow”

“Meaow…meaow….”

Aku bisa rasakan kalau dia sedang bercerita tentang kepergiannya selama berhari-hari. Aku tahu, dia tak mau aku khawatir, aku selalu menanggapi dengan berkata “Luna dari mana? Cape ya sayang?” aku menganggapnya seperti kekasih ku sendiri, dia sudah aku anggap ‘soulmate’.

Sepulang dari masa kawin dan selesai bercerita, dia tertidur hampir sepanjang hari. Dia terlihat lelah dan begitu lemas. Aku sering mengelus-ngelus tubuhnya yang dipenuhi bulu-bulu halus dengan penuh kasih sayang. Entah mengapa meskipun Luna jutek dan galak tapi aku begitu menyayanginya. Aku sering tidur bersamanya, banyak orang bilang “jangan tidur sama kucing nanti gak bisa hamil alias mandul” tapi aku begitu saja membiarkan kata-kata itu lewat dari telinga kanan ke telinga kiri. Aku tak bisa menahan diri untuk memeluk dan tidur bersama kucing kesayangan ku itu.

Luna tumbuh semakin dewasa, tubuhnya begitu gagah, wajahnya tampan dibandingkan kucing-kucing lain disekitar rumah ku yang terlihat seperti kucing garong. Suaranya begitu merdu sampai-sampai banyak kucing betina yang datang ke rumah ku untuk bertemu Luna, mereka mengeong dan memanggil Luna keluar rumah. Aku selalu tertawa bila melihat tingkah laku kucing kesayanganku itu. Dia galak tapi banyak kucing betina yang menyukainya, aku rasa dia kucing yang romantis dan penyayang, tak mungkin banyak kucing betina yang mau dipacari kalau Luna tidaklah romantis, penyabar, dan tentu saja penyayang.

Banyak kucing jantan yang benci bila melihat Luna, selain karena banyak betina yang mendekati Luna juga karena sikap angkuh dan arogan Luna. Kucing jutek ku punya banyak musuh karena dia selalu usil, menggeram bila ada kucing jantan lewat rumah kami. Luna merasa kalau dia adalah seorang jagoan, meskipun aku tahu Luna adalah salah satu kucing yang “Jago Kandang”, berani kalau ada di dalam kadang atau rumahnya sendiri.

Kelakuan Luna yang membuatku merasa kalau kucing ini begitu konyol adalah ketika Luna berselisih dengan kucing jantan lainnya. Luna selalu mengeluarkan suara-suara seperti menjerit ketika mengadapi musuhnya, dan suara itu selalu terdengar oleh ku dan aku selalu membela Luna dan mengusir semua musuh-musuhnya. Saat itu Luna pasti langsung masuk rumah dan anehnya dia selalu melakukan ritual duduk di atas kursi dan melihat ke arah jendela seperti melihat keadaan apakah musuhnya masih ada atau tidak!! Aku dan keluarga ku selalu memperhatikan tingkah lucu Luna saat berhadapan dengan musuhnya.

Orang bilang kucing ku itu kucing yang sok “ningrat” karena Luna tidak suka daging atau ikan mentah, semua ikan dan daging harus digoreng. Ada untungnya juga jadi mama tidak akan pernah kehilangan ikan atau daging karena dicuri oleh Luna. Luna tidak suka makan telur, dia lebih suka makan tempe goreng dan kerupuk.

Saat aku dan keluarga sedang makan Luna selalu ikut repot dan ingin ikut makan bersama-sama, entah apa yang dipikirkannya saat kami sedang menyantap makanan dia pasti selalu berdiri sambil mengeluarkan kukunya dan menempelkannya pada kaki kami seolah dia ingin memberitahu kami kalau dia ada dibawah dan lapar!!

Aku memang memanjakan Luna dan dia memang lucu dan pantas untuk dimanjakan meskipun dia sering bertingkah ‘ngelunjak’, tapi entah mengapa aku masih saja menyayanginya sepenuh  hati. Bila aku menatap wajahnya yang lucu dan mengemaskan, hati ku seakan luluh dan terhipnotis tak bisa marahinya.

Suatu hari, ketika aku sedang menghadapi masalah dengan pacar ku, namanya Fadly. Dia teman bimbel ku. Dia begitu menyebalkan, aku merasa kalau dia gak sayang sama aku, dia selalu nyakitin perasaan aku. Aku sering merasa kalau dia tidak sepenuh hati menyayangi ku, aku masih dibayang-bayangi masa lalunya dan mantan pacarnya yang bernama Fanny. Aku tak bisa menahan tangis ku yang mendalam, saat aku sedang menangis dibawah bantal. Luna mengeong, dia mungkin bertanya “Kamu kenapa?” aku langsung mengeluarkan kepala ku dari bawah bantal. Aku menatap wajahnya yang kecil, matanya yang hijau, dan kumisnya yang panjang.

“Aku lagi sedih Luna” aku langsung menggendongnya kepelukanku, aku memeluknya penuh kasih sayang. Aku merasa dia sahabat yang begitu baik, walau kami tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa manusia tapi aku mengerti apa yang dikatanya dan dia pun sepertinya mengerti apa yang aku katakan. Itulah yang aku sebut “bahasa kalbu”. Kami berdua seperti berbicara dari hati ke hati. Aku merasa bisa merasakan apa yang diinginkannya lewat tatapan mata dan bahasa tubuhnya.

Aku sering mncurahakan isi hatiku kepada Luna, meskpin dia tidak bisa memberikan solusi tetapi aku merasa dia begitu mengerti setiap keadaan ku. Hanya dengan menatap wajahnya yang menggemaskan itu sudah bisa membuatku merasa lebih baik.

“Mah Luna kemana?” tanya ku saat pulang sekolah, saat itu mama sedang dikamar mandi.

“Itu teh, kayaknya Luna jatuh ke sumur belakang, dari jam tujuh pagi” aku langsung kaget, aku buru-buru melihat ke jendela belakang. Aku melihat jam tanganku, sekarang sudah jam setengah dua siang. Berapa jam Luna ada di dalam sumur??

“Mama Eva, ada kucing yang jatuh ke sumur ya?”

“Iya neng Sienta”

“Warnanya apa?”

“Item neng” mendengar suara nyaring dari dalam sumur, tidak diragukan lagi itu pasti Luna. Aku berlari memutari jalan untuk menuju rumah belakang, aku tak bisa berpikir, aku hanya berdoa kepada Alloh semoga Luna bisa selamat. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam sumur sana, Luna pasti sedang berjuang untuk hidupnya. Aku tak bisa membayangkan, kucing yang tak berdaya itu bertahan didalam sumur, kata Mama dari pagi jam 7 orang dibelakang rumah sudah sibuk berusaha menyelamatkan Luna.

Jantung ku berdetak kencang, aku berlari cepat, aku tak mengganti baju seragamku, aku takut terjadi apa-apa dengan Luna. Aku akan merasa sangat bersalah bila sesuatu terjadi menimpa kucing kesayanganku itu.

“Ya Alloh tolong Luna” lalu dalam sekejap aku melihat kucing hitam itu berlari cepat, dia berlari ke pojok. Aku mendekatinya “Luna, meng…meng…” aku menatapnya, dia menggigil, wajahnya shock seketika namun perlahan-lahan rasanya percaya mulai kembali saat aku menggapai dan mengendongnya pulang dalam keadaan basah kuyup. Tubuhnya dingin, tak ada sedikitpun bagian dari tubuhnya yang kering, matanya mengeluarkan air mata. Dia menangis, aku tahu dia menangis, aku pun ikut menangis.

“Tenang ya sayang, udah gak apa-apa kok” aku memeluknya penuh kasih sayang, berharap bisa memberikan panas tubuhku untuknya.

Sesampainya dirumah, aku langsung mengambil kain untuk menyelimuti tubuh Luna, aku langsung mencari hair drier untuk mengeringkan bulu-bulunya. Aku menatapnya, dia berkedip berkali-kali. Aku tak tahan menahan air mataku, ketika mataku menerobos bola matanya yang hijau. Aku melihat ketidakberdayaan, ketakutan, dan trauma. Aku mencoba menenangkannya dengan mengelus-elus sambil mengeringkan tubuhnya.

“Luna….”

“Luna….”

“Luna sayang, udah jangan takut, kan udah disini. Lain kali kalau loncat hati-hati ya” aku mengelus kepalanya yang kecil, dia mengeong. Aku tahu dia mengeong mengiyakan ucapanku, nasehatku untuknya. Setelah bulu-bulunya lumayan kering, mama langsung memberi Luna satu ekor ikan goreng kesukaan Luna. Dia langsung melahap ikan goreng yang mengiurkan. Dia pasti lapar banget, mengeluarkan suara dan mencoba bertahan dengan menancapkan kuku ke tembok-tembok sumur selama berjam-jam adalah hal yang begitu melelahkan bagi seekor binatang seperti Luna. Tapi aku sungguh bangga kepadanya, dia kucing yang kuat, dan bisa mau mempertahankan hidupnya. Makasih ya Alloh, engkau telah memberikan kekuatan kepada kucing ku.

Orang bilang aku seperti orang gila, karena aku begitu menyukai kucing, dimana pun kucing berada, aku selalu ingin memeluknya, entah kucing itu lucu, bersih, jelek, ataupun kotor. Aku pernah menangis diangkot ketika melihat seekor anak kucing mengeong, dia menangis mencari orang tuanya. Dia tengah-tengah keramaian angkutan kota, saat lampu merah. Aku melihat kucing kecil itu menangis, menjerit, mencari ibunya. Mungkin dia haus, mungkin dia ingin minum susu ibunya. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku akhirnya menangis. Satu mobil melihat ku menangis, mungkin mereka heran mengapa tiba-tiba aku menangis. Aku bisa membayangkan kalau aku ada diposisi kucing kecil yang punya bulu berwarna kuning. Aku pastiakan melakukan hal yang sama, aku pasti menangis. Entah mengapa aku merasa ku bisa merasuki dan measakan apa yang kucing itu rasakan!! Aku juga pernah memarahi anak kecil karena dia memukuli kucing kucing kecil yang tersesat dengan batu. Aku tak bisa membiarkannya, aku berusaha menolongkucing kecil itu, aku melarang anak kecil itu untuk melemparinya dengan batu. Aku membawa kucing kecil itu menjauhi anak yang melemparinya. Aku sungguh tak bisa membiarkan tubuh kecilnya, tulang belulangnya yang belum terbentuk dengan sempurna.

Hari berganti hari, bulan berjalan kedepan, dan tahun selalu bertambah. Umur ku dan Luna pun semakin lama semakin bertambah, aku dan Luna semakin tua tapi semakin mendekati kematian. Aku saat ini sudah duduk dibangku kuliah, aku kuliah di jurusan biologi. Aku melihat Luna semakin terlihat tua. Banyak perubahan yang terjadi, suatu hari entah mengapa Luna menjadi sangat sensitive, dia sering marah, menyakar, dan mengigitku. Aku takut dia terkena rabies. Kalau itu sampai terjadi tanda aku harus kehilangan Luna dengan cara yang tidak wajar. Aku selidiki sebenarnya apa yang terjadi dengan kucingku saat itu. Aku memberinya daging ayam goreng kesukaan Luna tapi dia malah marah, dan mendesis kencang kepada daging yang aku berikan. Aku pikir Luna sedikit trauma, mungkin dia pernah mengambil daging ayam dirumah orang lalu dipukul hingga dia trauma.

Namun setelah diselidiki lebih lanjur, sepertinya bukan itu yang jadi masalahnya. Setiap makanan yang aku berikan Luna ingin memakannya tapi sering kali marah-marah kepada makanan. Mama dan papa sampai menyangka kalau Luna sedang stress. Aku tahu dia pasti ada masalah dengan pencernaannya. Lalu aku meminta mama untuk membantu ku membuka mulut Luna. Aku mengendong Luna dan memegang keempat kaki-tanganya agar tidak mencakar. Sementara mama membuka mulut Luna lebar-lebar, ada bau busuk yang kami cium. Lalu kami menemukan masalahnya. Ada tulang yang nyangkun di gigi belakang Luna. Mama mencoba mengeluarkan tulang itu dari mulut Luna dengan bantuan alat, aku memegangi Luna yang memberontak dan emngoncang-goncangkan tubuhnya.

“Tenang Lun, tenang” aku mencoba menenangkan tapi sepertinya Luna tidak mendengarkan. Dia terus menggeram, mengamuk, aku sekuat tenaga berusaha tak mengakitinya. Luna tak tahan dan dia ingin segera lepas dari genggaman tangaku, kuku di kakinya menerjang pahaku sampai terluka tapi aku tak peduli. Tulang itu harus lepas dari giginya agar dia tidak tersiksa lagi. Beberapa menit kemudian akhirnya mama berhasil melepaskan tulang yang cukup besat dari giginya. Pantas saja Luna sering marah-marah, giginya sedang sakit. Sama seperti ku, kalau sedang sakit gigi. Aku pasti sering marah-marah tanpa sebab!!

Setelah kejadian itu, Luna terlihat tidak lagi marah-mrah tapi nafsu makannya jadi berkurang. Aku merasa kasian, dia terlihat menjadi kurus.

“Luna, mau makan daging?”

“Luna sayang, kenapa sih jadi pendiem, kan biasanya cerewet” dia tidak menjawab, hanya  menatapku dalam, lalu menempelkan kepalanya kepipiku, seolah dia ingin dimanja. Aku langsung memeluknya.

Aku mengajari Luna untuk merayu dan mencium ku ketika dia sedang lapar “Luna, sini sayang. Cium dulu….sini cium dulu” mulanya dia cuek-cuek aja, tapi lama-kelamaan dia mengerti dan mencium pipi ku dengan hidungnya yang dingin. Setelah dia mencium pipi, baru aku memberinya makan, dan kebiasaan itu masih terbawa sampai sekarang.

Kebiasaan lain, Luna selalu duduk diruang tamu saat ada tamu atau pacarku sedang datang. Dia selalu ikutan nimbrung ngobrol, seolah mengawasi dan memperhatikan ku. Aku tahu dia cemburu, dia tak mau aku membagi kasih sayang untuk yang lain selain untuknya. Kalau aku mengendong atau bermain dengan binatang lain, dia selalu mengeong “Meaoww” dia terlihat kesal tapi berusaha menyembunyikannya. Dia adalah belahan jiwa ku, aku selalu sakit hati bila ada yang memarahinya apalagi yang mengatakan kalau dia kucing jelek.

Dulu dia gak jelek, dia dulu cakep. Dia sekarang memang sudah tua, bulu-bulu ditubuhnya kini sudah rontok, bahkan kumisnya yang hitam dan panjang kni sudah berguguran rontok, matanya kini selalu berair dan mengeluarkan kotoran. Aku selalu rajin membersihkan kotoran dimata Luna. Aku ingin melihatnya bersih dan tampan, karena dia memang kucing yang tampan.

Kalau dia mengeong aku selalu menyambutnya dengan panggilan “Apa kasep(bahas sundanya tampan)??” dia semakin lama semakin kurus, dia jadi susah makan hanya mau meminta sedikit makanan kita, mencicipinya saja. Kesukaan Luna adalah keju, aku selalu memberinya keju bila kami sedang membuat jagung keju.

Akhir-akhir ini kesehatannya mulai berkurang, berat tubuhnya semakin menciut, semakin terlihat kurus, bahkan tulang belakangnya pun bisa aku rasakan dengan jelas. Sekarang Luna memang sudah tdak seperti dulu lagi, dia sekarang jadi sering pipis dan buang air besar di dalam rumah. Dia merasa dunia luar begitu menakutkan, dia sudah tidak gagah lagi. Aku tak tega memarahinya, aku sering menasehatinya agar tidak pipis dan buang air besar didalam rumah “Luna sayang, kalau mau pipis atau ee jangan di dalam rumah ya, dulu kan sering bilang kalau mau pipis atau ee” aku memberitahunya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dulu kalau dia mau pipis atau mau buang air besar, Luna pasti rebut mengeluarkan suara “Meaoww meaow meaow didekat pintu” yang tandanya mau ke luar rumah dan pasti dia kebelek pipis atau buang air besar.

Mengapa aku begitu menyayangi Luna? Itu karena dia kucing yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatku, dari sejak aku duduk dibangku kelas 5 SD dan sekarang aku sudah kuliah di semester 8 tapi dia masih hidup dan selalu membuatku tertawa dengan segala kepolosan yang dilakukannya, saat mengejar bola, memainkan pensil yang bergerak, tali yang terlempar, gerlayutan digorden, merayu kucing betina dengan suara merdunya, mengintip musuh dibalik jendela, mencolek paha dengan kukunya ketika aku sedang makan, mencium pipiku saat dia lapar, duduk dibawah lemari makan jika dia sedang lapar, menungguiku mandi dan uang air besar didepan pintu kamar mandi, duduk didapur saat aku sedang masak, menemani aku belajar, mengerjakan tugas, membuat skripsi, menulis cerpen, puisi, jurnal, artikel, dan novel, ikut nimbrung kalau aku sedang ngobrol, selalu menyambutku dengan suara merdunya saat aku pulang kuliah, menemani aku tidur.

Satu hal lagi yang ku rasa aku sangat menyayanginya, sekarang tubuhnya dipenuhi oleh kutu-kutu, parasit yang menghisap darahnya yang tinggal sedikit. Jumlah kutunya ratusan, tidak seperti kutu biasa, kutunya kecil dan berwarna putih, aku ingin sekali memandikannya tapi aku takut dia kedinginan apalagi sekarang musim hujan, aku takut Luna sakit. Aku setiap hati selalu mengabil kutu-kutunya, mungkin sedikit mengurangi parasit pada tubuh mungilnya. Aku tak sanggup membayangkan seberapa hebat gatal yang dia rasakan saat kutu-kutu itu mengigit dan menghisap darahnya.

Bagaimanapun dia sekatang, seberapa jelek dia sekarang, seberapa buruk, dan seberapa parah dia sekarang, aku masih menyayangiya seperti dulu, bahkan rasa sayangku semakin besar melebihi rasa sayangku kepada diriku sendiri.

“Luna…I Love You, aku selalu mencintaimu apa adanya….”

***END***

2 Tanggapan to "LUNA"

-Kirain Luna maya
-salam

kan ada calon penggantinya penerus keturunan kucing item :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

kalender

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d blogger menyukai ini: