Novelss’s Blog

Keluarga

Posted on: Juni 4, 2009

Keluarga

Oleh : Sienta Sasika Novel

Setiap hari aku tak henti menangis, sepertinya air mata ku tak pernah ada habisnya. Aku terus bersabaran karena aku tahu Alloh selalu menyanyangi ku, walalupun dengan cara yang berbeda.

Sejak lahir aku sudah tidak mempunyai ibu, ibu ku meninggal di saat melahirkan aku. Ayahku yang tak bertanggung jawab kemudian memberikan ku kepada nenek dari ibu ku yang keadaannya sangat kekurangan, untuk makan saja nenek ku terkadang meminta kepada tetangga, tak ada yang mau menggurus nenek ku. Terkadang ia mencuci dan menyetrika baju-baju tetangga hanya untuk mendapatkan uang 5000, uang itu digunakan untuk membeli beras 1 kg. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan air susu ibu, sejak kecil aku hanya meminum air taji yaitu air beras. Namun nenek tidak pernah mengeluh telah menggurus, mendidik, dan membimbing ku. Nenek sangat menyayangi ku dengan sepenuh hati, wajahnya yang lugu tak pernah sedikitpun mengeluh atas apa yang di hadapinya ”Penderitaan di dunia adalah tiket menuju surga”. Sejak kecil nenek selalu mengajarkan ku agar tetap tabah dan sabar menghadapi semua cobaan-cobaan.

Tak ada kata mengeluh ataupun kata ’ah’ yang di ucapkan nenekku, ia begitu sabar. Aku tak mengerti mengapa ada orang yang sesabar itu menghadapi co baan seberat ini. Nenek tak pernah menganggap ku sebagai beban hidupnya tapi aku selalu merasa aku hanya menyulitkan nenek ku.

Sejak umur 5 tahun, aku telah di ajak bekerja bersama oleh nenek ku. Aku ikut membantunya mencuci meskipun sebebanrnya ku bukanlah membantu tapi mungkin bisa dikatakan ’mengacak-ngacak’ tapi tak pernah sedikitpun terlontar ucapan kasar atau kata-bentakan, saat itu yang aku lihat hanya lah senyum manis sambil berkata ”Bagus sayang kamu anak yang pintar” benar-benar wanita suci yang penuh kesabaran. Ibu…..aku teringat engkau, kenapa kau tinggalkan aku begitu cepat tanpa izinkan aku untuk berbakti dan mengurus mu bu? Aku rindu ibu, aku sayang ibu, aku rindu keluarga bahagia. Aku ingin keluarga yang utuh, aku ingin seperti anak-anak yang lain, aku ingin kehangatan keluarga.

Aku hanya punya nenek dan ayah, tapi keberadaan ayah akupun tak tahu. Mungkin sekarang ayah sudah punya keluarga baru, tak sedikitpun aku tahu kabar ayah. Apakah ada sedikit memori tentang aku di benaknya? ataukah aku benar-benar tak pernah diingatnya sama sekali?

Saat aku berusia 6 tahun, aku masuk sekolah dasar. Aku duduk bersama seorang anak perempuan yang bernama Riana yang kemudian sampai saat ini tetap menjadi sahabat terbaik ku. Dia anak pertama dari 3 bersaudara, aku pernah main kerumahnya yang sangat besar dan megah. Aku ingin saja sekali menjadi dirinya terlebih lagi keinginan itu tiba-tiba menjadi semakin mengebu-gebu ketika aku bertemu dengan keluarganya yang benar-benar bahagia. Saat bermain bersama ku, aku melihat betapa kedua orang tuanya sangat perhatian. Andaikan aku bisa seperti Riana, andaikan aku bisa sekali saja merasakan keluarga yang hangat seperti ini. Hati kecil ku ingin merasakan belaian seorang ibu, ciuman di kening dan pipi dari ayah dan ibu ku. Tak pernah sedikitpun aku merasakan kebahagian yang Riana rasakan. Apa salah ku? kenapa ibu meninggal? kenapa ayah pergi? kenapa aku titipkan di rumah nenek?

Kemudian saat aku duduk di bangku kelas 4 SD, aku merasa sangat berdosa karena telah berbohong kepada Riana mengenai ibu.”Sienta, aku dibuatin bekel lho sama ibu, kamu mau?” Tanya Riana yang pada saat itu sedang membuka makanan yang tersimpan di kotak berwarna coklat.

”Bekel apa?” tanya ku saat itu

”…..ini liat, aku dibuatin nasi goreng sama ibu, kamu mau gak? oh ya kok kamu yang dibuatin bekel juga sama ibu kamu?” tanya Riana polos ”Hei Sienta kamu kok diem sih?” tanya Riana kebingungan

”….ee….gak kok gak apa-apa, ehmmmm ibuku sedang sibuk, dia bekerja tapi mungkin nanti kalau sempat ibu pasti buatkan nasi goreng untuk ku, masakan nasi goreng ibu enak sekali” ucap ku sambil tersenyum tipis menahan tangis yang sebentar lagi akan mengalir.

”Sienta mau gak?” tanya Riana.

”Iya nanti, ehmmm Sienta mau ke belakang dulu ya, pengen pipis” ucap ku sambil berlari menuju toilet

Air mata benar-benar tak bisa tertahankan lagi, aku sudah tak tahan ingin menangis. Aku ingin punya keluarga, aku ingin merasakan disayang oleh ibu ku, aku ingin merasakan masakan ibu, aku juga ingin merasakan diantar dan dijemput oleh ibu.

Selama ini aku hanya bisa melihat wajah mu dari foto yang kertasnya sudah menguning, foto itu hanya satu-satunya kenangan yang aku miliki. Foto dimana aku bisa melihat senyum bahagia ibu, ibu begitu cantik, kalau dia masih hidup aku yakin ibu adalah ibu yang paling didunia ini. Dia pasti ibu yang sangat hebat!! Aku yakin itu!!

Aku tak memiliki foto ayah, nenek tak mengizinkan ku untuk melihat wajahnya. Mungkin nenek membenci ayah karena ayah tak bertanggungjawab tapi walau bagaimana pun dia adalah ayah kandung ku. Dia adalah orang yang ibu cintai, aku yakin ayah pasti punya alasan mengapa dia meninggalkan aku.

Andai aku bisa terbang dan menembus waktu, aku ingin berada di masa ketika ayah dan ibu masih berpacaran, saling menjalin kasih dan sayang, saling mencintai, aku yakin mereka pasti bahagia. Aku ingin melihat senyum di bibir kedua orang tua ku, canda tawa mereka mungkin bisa membuatku sedikit melupakan rasa kesepian yang selama ini telah aku rasakan.

”Ayah…ibu…aku sungguh merindukan dirimu” aku meneteskan air mata ketika aku harus merasakan getaran jiwa ini. Pikiran ku begitu saja melayang tanpa ada sekat yang membatasi khayalan ku.

”Bu….” aku kembali menundukan kepala ku, merasakan sejuknya semilir anin yag berhembus, menerba tubuh ku yang sedang duduk ditaman kampus.

Duduk ditaman kampus, saat matahari mulai tenggelam adalah kebiasaan ku sejak aku menjadi mahasiswa. Sudah 21 tahun aku hidup bersama nenek ku, kerinduanku akan keluarga begitu besar, hingga aku selalu meghabiskan waktu ditempat ini untuk melihat foto ibu dan memikirkan ayah yang sampai saat ini tak ku ketahui wajah dan kabarnya.

Apa yang sedang ayah lakukan saat ini? Apakah ayah mengingat ku? Apakah ayah rindu kepada ku? Apakah ayah memikirkan apa yang aku pikirkan? Apakah ayah ingin bertemu dengan ku?

”Ayah ada dimana?” bisik ku sambil memeluk buku haRianan yang selalu menemani setiap gundah yang aku rasakan.

”Hei”

”Riana” aku langsung menghapus air mataku ketika aku menyadari kehadiran Riana.

”Deuh hobi banget sih mejeng di sini neng” kata Riana, dia hari ini terlihat begitu ceRiana. Aku dan Riana sampai saat ini masih menjadi sahabat baik, dia begitu baik kepada ku. Kedua orang tua nya pun menganggapku seperti keluarganya sendiri. Aku sering berkunjung ke rumah Riana dan menginap disana. Kami sering bercerita, terkadang aku iri melihat kebahagian yang Riana rasakan tapi mungkin itu hanyalah suara hati yang terpendam karena kerinduanku kepada kedua orang tua ku.

”Eh kamu belum pulang? Kok tumben masih dikampus?” tanya ku untuk mengalihkan perhatian, aku tak mau Riana mengetahui kalau aku sedang bersedih.

”Tadi aku ada kumpul sama anak-anak BEM dulu, oh ya kamu udah tahu belum?” tanya Riana, dia langsun duduk disebelahku, aku buru-buru memasukan buku harian dan foto ibuku ke dalam tas.

”Tahu apa?” tanya ku penasaran.

”Kamu inget gak kak Sandi?” aku langsung memutar otak ku, mengingat nama Sandi yang begitu banyak.

”Kak Sandi mana?” tanya ku bingung

”Itu lho yang dulu pernah kecelakaan”

”Oh iya” saraf-saraf ku mulai mengisyaratkan kalau aku mengingatnya ”Emang kenapa sama dia?”

”Katanya minggu kemaren dia berhenti kuliah”

”Lho kok?”

”Bapaknya seminggu yang lalu meninggal dunia gara-gara TBC, sekarang dia mesti ngebiayain ibu dan adik-adiknya sekolah, mana adiknya banyak lagi. Kasian ya nta”

Ya Alloh, kak Sandi. Dia pasti masih pengen kuliah deh, ya ampun. Aku bisa bayangin betapa tersiksanya kak Sandi harus rela melepaskan kuliah dan cita-citanya demi menghidupi ibu dan adiknya. Ternyata masih ada yang lebih menderita daripada aku, maafkan aku ya Alloh kalau aku kadang tak pernah mensyukuri nikmat mu.

Sepulang kuliah aku berkunjung ke rumah Riana, hari ini ibunya Riana ulang tahun. Aku di undang untuk makan malam di rumahnya. Sebelum pulang, Riana mengajak ku untuk membelikan hadiah istimewa untuk ibunya tercinta.

Hadiah? Aku ingin sekali memberi ibu ku hadia, tapi aku tak bisa membelikan ibu hadiah setiap tahunnya. Aku hanya bisa memberikan doa yang tulus dari lubuk hati ku agar ibu diterima di sisi Alloh. Aku memang tak bisa memberikan hadiah seperti Riana memberi hadiah setiap tahun untuk ibunya tapi aku janji kepada ibu kalau aku akan membuat ibu bangga, aku tidak akan menyia-nyiakan perjuangan dan pengorbanan ibu untuk melahirkan ku ke dunia ini. Meskipun selalu terbersit dibenak ku ini kalau aku ingin punya keluarga bahagia seperti keluarga Riana. Ibu yang perhatian, baik, dan pintar memasak. Ayah yang bijaksana, pengertian, dan bertanggungjawab.

”Gimana nta bagus gak?” tanya Riana, dia tersenyum sambil memperlihatkan kalung emas yang dipesannya di toko perhiasan ini satu bulan yang lalu.

”Bagus banget na, ibu mu pasti suka banget deh”

”Masa sih nta?”

”Iya keren banget deh, kalau ibu aku masih hidup, aku juga penge banget kasih hadiah kayak gini buat ibu”

”Aduh nta, aku yakin banget deh kalau ibu kamu masih ada, ibu kamu pasti bangga banget deh sama kamu. Kamu tuh pinter banget, ibu aku aja sering banget muji-muji kamu. Makannya dia sayang sama kamu dan udah nganggep kamu seperti anak sendiri, dan aku….aku juga udah nganggep kamu kayak saudara aku sendiri” Riana tersenyum, dia begitu baik. Aku merasa malu kepada diriku sendiri, mengapa aku selalu iri kepadanya padahal dia sama sekali tak pernah iri dan membenci ku.

”Makasih ya na”

”Gini deh, apa pun yang terjadi kita tetep saudara, oke? Janji?” Riana memberikan jari kelingkingnya.

Aku menyambutnya dengan jari kelingking ku yang kecil ”Janji” aku tersenyum.

Sesampainya di rumah Riana, aku melihat ibunya Riana berdandan begitu cantik, memakai gaun warna krem dengan banyak bahan brukat mewah. Riana bilang baju ibunya dua minggu yang lalu baru pesan dibutik langganannya, butik mewah tempat para artis memesan gaun untuk pesta.

”Malam tante” aku tersenyum menyalami ibunya Riana.

”Malam sayang”

”Tante selamt ulang tahun ya, mudah-mudahan tante banyak rezeki” aku mencium pipi kanan dan kirinya sambil memberikan hadiah kecil yang tak sebanding dengan hadiah yang diberikan Riana, tapi mudah-mudahan tante suka.

”Makasih ya sayang”

”Mama, nih aku kasih hadiah spesial buat mama” Riana tersenyum sambil memeluk ibunya. Oh betapa bahagianya Riana bisa memeluk ibunya, bisa merasakan kehangatannya, dan juga bisa merasakan sentuhan tangannya. Ibu aku kangen ibu….aku juga kangen sama ayah.

”Makasih ya sayang, ayo kita makan….papa udah nunggu kita. Ayo Sienta…”

”Iya tante makasih”

Kami makan malam dengan menu istimewa yang dipesan dari restoran mahal di Bandung, ayahnya Riana adalah seorang pengusaha yang sukses. Dia memiliki kemampuan yang tak diragukan lagi, tubuhnya yang tinggi gagah, wajahnya yang lonjong, matanya yang bulat, dan kulitnya yang hitam menginspirasi ku kalau dia adalah ayah yang selama ini aku cari. Aku memang bodoh, tak tahu wajah ayahku lantas aku memikirkan wajah ayahnya Riana sebagai wajah ayah ku. Aku berharap kalau ayah ku juga sebaik ayah Riana, bedanya ayahku meninggalkan aku saat aku kecil, tak seperti ayahnya Riana yang begiu bertanggungjawab.

Riana adalah anak tunggal, semua perhatian dari kedua orang tuanya tertuju untuk Riana. Betapa bahagianya menjadi seorang Riana, aku turut bahagia melihat canda tawa dikeluarga ini. Aku pun bersyukur bisa berada ditengah-tengah keluarga bahagia seperti keluarga Riana.

Sepulang dari rumah Riana, aku langsung, mengeluarkan buku-buku dari dalam tas ku lalu menyimpannya ke dalam rak. Untung besok hari libur jadi aku bisa beristirahat dengan tenang, tak ada beban pikiran.

Aku membawa handuk dan pencuci muka, aku harus mencuci muka ku yang kotor penuh debu. Sebelum memasuki kamar mandi, aku melihat nenek sudah tertidur nyeyak. Nenek sudah semakin tua, aku sudah menyuruhnya berhenti bekerja tapi nenek tidak mau, katanya kalau nenek berhenti bekerja, nenek merasa bosan dan badannya terasa sakit. Begitulah kalau orang sejak muda sudah senang bekerja, disiplin, rajin, semangat meskipun sudah tua.

Nenek, dia satu-satunya keluarga ku. Meskipun dia benci ayah, tapi aku tetap menyayangi keduanya. Aku menyayangi nenek dan ayah. Mungkin hanya tinggal mereka keluarga ku. Ha’ah, sudah ah aku mau bersih-bersih, besok pagi aku mau beres-beres rumah, mumpung nenek lagi besok mau belanja ke pasar jadi aku bisa beres-beres dengan tenang.

Pagi-pagi setelah aku dan nenek sholat subuh berjamaah, nenek langsung berbelanja ke pasar. Aku…sesuai dengan rencana, aku langsung membereskan seluruh ruangan, mulai dari ruang tamu, dapur, kamar ku, dan kamar nenek.

Oh kamar ku banyak debu, sudah dua minggu aku tidak sempat membereskan kamar, kegiatan dikampus sudah menyita banyak waktu ku, sudah satu minggu aku tak sempat membantu nenek mencuci baju tetangga. Kuliah ku akan segera berakhir liburan akhir tahun akan segera tiba, aku akan bekerja lagi untuk membantu nenek mencari uang.

”Ha’ahhhh akhirnya kamar ku selesai juga diberesin, sekarang tinggal kamar nenek deh” aku merentangkan tangan, rasanya tanganku ini pegal sekali ”Sekarang tinggal kamar nenek aku beresin”

Aku berjalan cepat menuju kamar nenek, huah kamar nenek berantakan. Kayaknya nenek hari ini bener-bener sibuk sampai lupa membereskan tempat tidur. ”Oke aku mulai dari tempat tidur aja deh…”

Ya ampun, nenek ku tuh kuat banget. Di umurnya yang sudah berusia lanjut, nenek tetap rajin bekerja. Nenek memang inspirasi bagi ku, aku sayang kepadanya. Nenek….makasih ya….

Aku mulai melipat selimut nenek yang sudah usang, selimut tebal berwarna merah tua, ku lipat menjadi empat bagian. Aku bersihkan seprai nenek menggunakan sapu lidi, aku tumpuk bantal-bantal tipis yang sudah lapuk agar terlihat rapih. Aku mulai membenahi seprai agar tidak terlihat kusut.

BRAKKKKKKKKKKKKKKK

”Apa itu?” sesuatu jatuh dari atas ranjang nenek saat aku menarik kasur untuk memasukan seprai. Aku berhenti sejenak, lalu aku menggerakan tangann ku untuk mengapai benda yang jatuh tadi. Ini apa?

Ketika tangan kanan ku sudah mengapai benda itu, aku langsung melihat dengan seksama, sepertinya ini sebuah buku. Aku melihat sampul depannya sudah kering dan rapuh, terobek-robek, aku membalikan buku tersebut aku melihat dua hurup yang hampir pudar ”S&A”

”S dan A?” aku bingung, apa maksudnya huruf S dan A ini, aku tak mengerti. Aku penasaran, aku langsung membukanya. Ini bukan buku tapi album….

”Ini kan ibu….oh nama ibu Sita Rahmasari….ibu waktu muda cantik banget ya, mirip aku” aku tersenyum, kenapa nenek menyembunyikan album ini. Kenapa nenek hanya memberikan satu foto ibu untuk ku padahal disini foto ibu banyak banget. Aku mirip banget sama ibu, iya mirip banget. Hanya beda warna kulit saja, ibu putih sedangkan aku coklat, aku rasa kulit ku dari ayah deh. Aku buka lembar demi lembar album ini, aku senang melihat foto ibu….

”Ini…” mulut ku seakan terkunci

”Sienta, kamu ngapain?”

”Nenek” aku langsung menjatuhkan album itu.

”Sienta….” nenek sepertinya kaget melihat ku memegang album foto ini, sama seperti ku, ketika aku tahu wajah ayah ku…

”Apa dia ayah ku nek?”

Nenek tak menjawab, nenek langsung menjatuhkan belanjaannya, semua sayuran jatuh ke lantai, aku mengambi kembali album yang terlepas dari tangan ku. Aku sodorkan foto ayah kepada nenek ”Nek, jawab!! Apa iya ini foto ayah, apa benar ini ayah aku?” nenek masih tak menjawab, aku tak tahu harus bagaimana, aku bingung…

”Nek, kumohon jawab aku nek….”

”Iya, dia ayah mu” nenek kembali diam, aku pun diam mendengar kenyataan ini, Akhirnya aku menemukan ayah…”Dia laki-laki yang telah menyakiti ibu mu dan meninggalkan ibu mu, aku membencinya. Aku sungguh membencinya!!” mata nenek langsung berubah berkaca-kaca, dia menangis, aku pun ikut menangis.

”Ardian Yuwono” suara nenek begitu terdengar jelas ditelinga ku, aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan ketika aku mengetahui siapa ayahku sebenarnya. Aku berlari, aku berlari sambil membawa album kenangan, aku berlari sekuat mungkin, meskipun mata ku berkaca-kaca, aku tetap melangkahkan kaki ku menuju danau yang tak jauh dari desa tempat ku tinggal. Seperti biasa aku duduk dikayu-kayu dipinggir danau, aku lihat air yang tergenang begitu tenang, mengalir seirama di iringi hembusan angin sepoi-sepoi yang datang dari arah timur.

Ardian Yuwono, itu nama ayah ku. Akhirnya setelah 21 tahun aku hidup di dunia ini aku bisa mengetahui namanya, aku bisa mengenali wajahnya. Ayah…kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau meninggalkan aku dan ibu? Kenapa yah?

”Ayaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh” aku berteriak sekuat mungkin, aku ingin pita suara ku rusak, aku ingin dia mendengarkan jeritan hati ku yang terluka.

”Kenapa yah? Kenapa harus anda yang menjadi ayah ku? Kenapa harus Ardian Yuwono yang menjadi ayah dari seorang Sienta Azadirachta?”

Aku terdiam ejenak, aku termenung, aku bayangkan wajahnya yang tampan dan gagah, aku tak menyangka ternyata ayah begitu dekat dengan ku. Kenapa harus ayah Riana Yuwono yang menjadi ayah ku? Kenapa harus dia ya Alloh, kenapa???

”Kenapa harus ayah dari sahabat ku sendiri?”

Dia yang aku anggap seperti ayahku sendiri ternyata memang ayah kandung ku, apa yang harus aku lakukan ya Alloh? Apa? Apa? Aku tak mau merusak kehidupan mereka yang bahagia karena kehadiran aku yang tak diinginkan. Aku tak mau sahabat ku Riana membenci ku karena aku telah merusak keharmonisan keluarganya, aku tak mau menyakiti perasaan tante Mira karena kelahiran ku yang tak diinginkan. Apa yang harus aku lakukan ya Alloh?

Kalau kenyataannya seperti ini, lebih baik semur hidup aku tak pernah tahu kebenarannya. Lebih baik selamanya aku buta, lebih baki aku hidup dalam ketidaktahuan akan keberadaan ayah kandung ku. Ayah yang aku idolakan meskipun nenek membencinya, ayah yang aku rindukan kehadirannya meski dia telah meninggalkan aku dan ibu, ayah yang aku kagumi meski ternyata dia adalah ayah dari sahabat baik ku, Riana.

”Ayah…aku tak sanggup membenci mu yah, aku tak bisa membenci mu, aku merindukan mu dan ibu. Aku merindukan kalian berdua, keluarga ku”

Semalaman aku tak bia tidur, air mata ku terus menetes.Aku masih tak bisa menerimananya. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku ingin ayah tahu kalau aku adalah anak kandungnya tapi aku tak bisa begitu saja mengatakannya. Mungkin kata-kata ku akan merusak segalanya, aku akna merusak kebahagian sahabat ku, mungkin aku akan menyakiti semuanya jika aku mengatakan kenyataannya. Ayah…bagaimana pun juga aku mencintaimu, seperti aku mencintai ibu dan nenek.

Sepulang kuliah, aku merasa lemas, aku masih shock ”Sientaaaaa…”

”Riana”

”Papa ngajak kita jalan-jalana, sama mama juga, kamu ikut ya”

”Tapi aku…”

”Ah udah gak usah aku-aku, yang penting kamu ikut, yuk. Papa dan mama udah nunggu kita ditempat parkiran” Riana menarik tangan ku, aku tak berdaya menolak, entah aku tak bisa menolak atau aku memang tak mau menolaknya, karena aku akna bertemu dengan ayah.

Kami berempat main ke taman kota, aku melihat ayah dan Riana sedang bercanda gurau. Aku iri, dia juga ayah ku. Tapi aku tak bisa mengungkapkan semuanya, aku hanya bisa melihat ayah dari jauh saja. Aku hanya bisa merindukannya dari jauh saja, aku ingin ayah melihat ku ”Ayah” bisik ku pelan.

Ayah…andai kau tahu, aku anak mu, aku disini selama 21 tahun mencari mu, aku merindukan mu tapi setelah aku tahu kalau kau adalah ayah ku, aku tak berdaya untuk memiliki mu. Kau punya keluarga yang begitu bahagia, aku mungkin tak diinginkan tapi aku selalu mencintai mu yah, aku tak membenci mu sama sekali tak membenci mu….

Ayah…ibu…aku mencintai kalian berdua, kalian berdua adalah keluarga ku. S&A, Siti Rahmasari dan Ardian Yuwono…. S dan A menjadi Sienta Azadirachta…kita adalah keluarga…!!

***END***

2 Tanggapan to "Keluarga"

nice posting ai ^_^

*wah…*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

kalender

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d blogger menyukai ini: