Novelss’s Blog

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

REOVIRIDAE
oleh :
Sinta Sasika Novel, S.Si
Tahun 2009
Reoviridae merupakan golongan virus yang yang mempunyai virion tak berselubung dengan simetris ikosahedral yang berdiameter 60-80 nm mempunyai genom RNA untai ganda, bersegmen. Golongan virus tersebut memiliki meliputi 3 genus yaitu :
(1) Reovirus, terdiri dari 3 serotipe
(2) Rotavirus, terdiri dari 2 serotipe
(3) Orbivirus, terdiri dari beberapa serotype (golongan demam caplak Colorado dan Kemerovo) yang bersifat lintas artropoda (arthropoda-borne)

Sifat-sifat dari Reoviridae :
Ukuran diameter virion 60-80 nm dan memiliki dua kulit kapsid yang terpusat (kosentris), dimana tiap virion berbentuk ikosahedral (rotavirus mempunyai tiga lapisan). Rotavirus mempunyai 132 kapsomer, dan tidak beramplop. Partikel virus ini berkulit tunggal dan tidak mempunyai kapsid luar berdiameter 50-60 nm. Core bagian dalam dari partikel berdiameter 30-40 nm. Partikel berkulit ganda merupakan bentuk infeksi virus yang sempurna.
Genom mengandung RNA untai ganda dalam 10-12 segmen tersendiri dengan ukuran total 16-27 kbp, tergantung genusnya. Rotavirus mengandung 11 segmen genom, dimana orthoreovirus dan orbivirus masing-masing memiliki sepuluh segmen dan coltivirus mempunyai 12 segmen. Segmen RNA individual memiliki ukuran yang beragam mulai dari 680 bp (rotavirus) sampai 3900 bp (orthoreovirus). Core virion mengandung beberapa enzim yang dibutuhkan untuk transkripsi dan capping RNA virus.
Reovirus biasanya tidak stabil terhadap panas, pH 3,0-9,0 dan pelarut lemak, tetapi dapat di inaktivasi oleh ethanol 95%, fenol, dan chlorin. Sedikit perlakuan dengan enzim proteolitik akan menambah infektivitasnya.
• Virion
Berbentuk ikosahedral yang berdiameter 60-80 nm, memiliki dua kulit kapsid yang terpusat atau konsentris
• Komposisi
RNA 15% dan Protein 85%
• Genom
Genom mengandung RNA untai ganda dalam 10-12 segmen tersendiri dengan total genom 16-17 kbp
• Protein
Memiliki sembilan protein struktural, core berisi beberapa enzim
• Amplop
Tidak ada amplop atau amplop semu transien (transistent pseudoenvelope) struktur tersebut terdapat selama terjadi morfogenesis partikel.

REOVIRUS
Reovirus banyak dipelajari dengan sangat teliti oleh para ahli bilogi molekuler, tidak diketahui sebagai penyebab penyakit manusia. Reovirus dapat dengan mudah dikembangbiakan dalam biakan primer ginjal kera/manusia dengan menimbulkan efek sitopatik yang khas. Virus yang di inokulasi secara intraserebral dapat menginduksi terjadinya suatu ensefalitis pada mencit baru lahir serta dapat menggumpalkan eritrosit manusia golongan 0 dalam air garam faal pada suhu 22oC. Reovirus biasanya tidak stabil terhadap panas, pH 3,0-9,0 dan pelarut lemak tetapi dapat di inaktivasi oleh ethanol 95%, fenol, dan chlorin. Sedikit perlakuan dengan enzim proteolitik akan menambah infektivitasnya.

Klasifikasi dan sifat-sifat antigen :
Reovirus ada dimana-mana dengan kisaran inang yang sangat besar. Tiga tipe reovirus yang berbeda tetapi saling berhubungan telah ditemukan dari banyak spesies dan dapat di tunjukkan melalui tes Nt dan HI. Ketiga tipe berbagi antigen yang terikat komplemen secara umum. Reovirus mengandung suatu hemagglutinin untuk golongan darah O manusia atau eritrosit sapi.

Epidemilogi :
Reovirus menyebabkan banyak infeksi yang tidak nyata karena kebanyakan orang memiliki antibodi serum pada awal masa dewasa. Antibodi juga terdapat pada spesies lain. Ketiga serotipe telah ditemukan dari anak-anak sehat, dari anak-anak yang sangat muda selama wabah penyakit demam ringan, dari anak-anak dengan diare atau enteritis, dan dari simpase dengan rhinitis epidemika.
Studi terhadap sukarelawan manusia telah gagal menunjukan suatu hubungan yang jelas tentang seba dan akibat reovirus pada penyakit manusia. Pada sukarelawan yang diinokulasi, reovirus ditemukan jauh lebih banyak di dalam feses daripada hidung atau tenggorokan. Diperkirakan terdapat suatu hubungan reovirus dengan atresia biliaris pada bayi.

Patogenitas :
Reovirus telah menjadi contoh sistem penting untuk studi terhadap patogenitas infeksi virus pada tingkat molekuler. Rekombinan tertentu dari dua reovirus dengan fenotip patogen yang berlainan digunakan untuk menginfeksi tikus. Kemudian digunakan analisis terpisah untuk menghubungkan gambaran patogenitas tertentu dengan gen virus spesifik dan produk-produk gen. Sifat-sifat patogen reovirus terutama ditentukan oleh spesies protein yang ditemuka pada kapsid luar virion. Hemaagglutinin virus (σ1) bertanggungjawab untuk interaksi reseptor yang mengontrol sel dan tropisme jaringan; σ1 juga merupakan penentu utama pada respon imunitas humoral dan seluler inang.
Protein µ1C menentukan kemampuan virus untuk bereplikasi pada tempat primer ibfeksi, saluran gastrointestinal, dan sesudah itu mengalami penyebaran sistemik. Ia juga menyesuaikan respon imun pada σ1. Protein σ3 bertanggungjawab untuk menghambat sintesis RNA sel dan protein inang dengan demikian ia mengendalikan kemampuan reovirus untuk membunuh dan melisis sel. Gambaran yang muncul adalah bahwa protein permukaan virion memegang peran penting dalam patogenitas. Studi-studi yang juga menunjukan bahwa virulensi ditentukan oleh interaksi berbagai virus dengan gen seluler serta hasil-hasil gen.

Replikasi :
Partikel virus berikatan dnegan reseptor spesifik pada permukaan sel. Protein bagi ikatan sel untuk reovirus merupakan hemagglitinin virus protein σ1, suatu komponen minor dari kapsid luar. Setelah pengikatan dan penembusan, pelepasan selubung partikel virus terjadi di dalam lisosom di dalam sitoplasma sel. Hanya kulit luar virus yang dipindahkan dan suatu transkripsi RNA yang berkaitan dengan core diaktivasi. Transkriptase ini mentranskripsi molekul mRNA dari untaian minus setiap segmen RNA untai ganda yang berada di dalam core yang utuh. Molekul mRNA fungsional bersesuian ukurannya dengan segmen genom. Core reovirus berisi semua enzim yang penting untuk transkripsi, capping, dan melepaskan mRNA dari core, meninggalkan segmen genom RNA untai ganda di dalam.

Saat lepas dari core, mRNA diterjemahkan ke dalam produk-produk gen primer. Beberapa turunan panjang yang penuh, dikapsidasi untuk membentuk virus immature. Replikasi virus bertanggungjawab pada pembuatan untaian-untaian negatif untuk membentuk segmen genom untai ganda. Replikasi ini untuk membentuk RNA untai ganda keturunan yang terjadi dalam struktur core yang selesai sebagian. Mekanisme yang menjamin perakitan pelengkap segmen genom yang benar ke dalam core virus yang sedang terbentuk tidak diketahui. Polipeptida virus mungkin melakukan perakitan sendiri untuk membentuk kulit kapsid luar dan dalam. Reovirus menimbulkan badan inklusif dalam sitoplasma dimana partikel virus ditemukan. Pabrik virus ini berkaitan erat dengan struktur tubuler (mikrotubulus dan filamen perantara). Morfogenesis rotavirus melibatakan pertunasan partikel kulit tunggal ke dalam retikulum endoplasma kasar. Begitu di dapat “amplop palsu” ini kemudian dipindahkan dan kapsid luar bertambah. Jalan yang tidak biasa ini dipakai karena protein kapsid luar utama terglikolisasi. Lisis sel menghasilkan pelepasan virion keturunan.

ROTAVIRUS
Rotavirus belum dapat dikembangkan dengan pembentukan efek sitopatik dalam sistem biakan sel apapun yang sesuai, tetapi adanya replikasi virus tersebut dala sel epitel intestinal telah dapat di buktikan dengan teknik imunofluoresensi. Virion rotavirus mempunyai diameter keseluruhan sebesar 60-66 nm dan mempunyai lapisan kapsomer rangkap yang mengelilingi pusatnya dan memberikan gambaran sebuah roda.
Rotavirus dapat dilihat dengan mikroskop elektron dalam sediaan tinja dari 20-40% anak berumur 5 tahun ke bawah yang menderita gastroenteritis dan partikel-partikel yang besarnya 27 nm yang spesifik bagi calicivirus, astrovirus, dan virus lain yang mirip golongan picornavirus dapat ditemukan pada 1-5% anak lainnya yang menderita gastroenteritis. Di samping itu virion dapat di deteksi dalam tinja dari sebanyak 4% anak tanpa gastroenteritis yang dirawat di rumah sakit.
Rotavirus adalah penyebab utama diare pada bayi manusia dan binatang muda, termasuk anak sapi dan anak babi. Infeksi pada organ dewasa dan binatang juga sering juga sering. Beberapa rotavirus merupakan agen penyebab diare infatile pada manusia, diare anak sapi di nebraska, diare yang menyerang bayi tikus dan virus SA 11 pada kera. Rotavirus menyerupai reovirus dalam batasan morfologi dan strategi replikasinya.

Klasifikasi dan sifat-sifat antigen :
Rotavirus memiliki antigen umum yang berlokasi pada sebagian besar jika tidak semua protein struktural. Ini bisa mendeteksi dengan imunofluoresen. ELISA dan mikroskop elektron imun (IEM). Tiga besar subgrup antigen rotavirus manusia telah teridentifikasi. Protein kapsid luar VP4 dan VP7 membawa epitope penting dalam aktivasi netralisasi, walaupun glikoprotein VP7 tampaknya merupakan antigen dominan. Antigen spesifik tipe ini membedakan antara rotavirus-rotavirus dan dapat ditunjukan dengan tes Nt. Sedikitnya 9 serotipe telah teridentifikasi di antara rotavirus manusia berbagi spesifitas serotipe. Misalnya, virus S A 11 kera secara antigen sangat mirip dengan serotipe 3 manusia.
Virus yang sering meninmbulkan gastroenteritis pada manusia ini di golongan sebagai rotavirus grop A, tetapi rotavirus yang berbeda secara antigenik juga menyebabkan wabah diare, terutama pada orang dewasa. Studi epidemilogi molekuler telah menganalisis isolat berdasarkan perbedaan dalam migrasi segmen genom 11 mengikuti elektroforesis RNA dalam banyak penelitian. Perbedaan dalam elektroforesis ini tidak dapat dipakai untuk meramalkan serotipe tetapi elektroforesis dapat menjadi alat epidemilogi untuk memantau penularan virus.

Pengembangbiakan dalam biakan sel :
Rotavirus adalag agen yang bersifat pemilih dalam hal kultur. Kebanyakan rotavirus group A dapat di biakan jika sebelumnya diberikan enzim proteolitik tripsin dan jika terdapat tripsin dalam level yang rendah dalam medium kultur jaringan. Ini bisa memecahkan protein kapsid luar dan memudahkan pelepasan selubung. Sangat sedikit strain rotavirus nongroup A yang telah dibiakan.

Patogenitas :
Rotavirus menginfeksi sel dalam vili usus kecil (ditambah mukosa lambung dan usus besar). Mereka berkembangbiak dalam sitoplasma sel-sel usus dan merusak mekanisme transportnya. Salah satu protein yang dikode rotavirus adalah NSP2 yang merupaka suatu enterotoksin virus dan merangsang sekresi dengan memicu suatu sinyal jalan pintas transduksi. Sel-sel yang rusak terkelupas masuk ke dalam lumen usus dan melepaskan virus dalam jumlah yang besar dapat tampak di feses (lebih dari 1010 partikel pergram feses). Ekskresi virus biasanya berakhir 2-12 hari dengan kata lain pasien sehat, tetapi bisa berkepanjangan pada pasien dengan nutrisi buruk. Diare yang disebabkan oleh rotavirus bisa terjadi karena kelemahan absorpsi natrium dan glukosa karena kerusakan sel-sel pada vili yang digantian oleh sel-sel tersembunyi dan immature dan tidak dapat mengabsorpsi. Bisa memakan waktu 3-8 minggu untuk kembali ke fungsi normal.
Diagnosis laboratorium berdasar pada adanya virus dalam feses yang dikumpulkan pada awal penyakit dan pada saat kenaikan titer antibodi. Virus dalam feses ditunjukkan melalui IEM, imunodifusi, atau ELISA. Dimungkinkan menentukan tipe asam nukleat rotavirus dari spesimen feses melalui PCR. Tes serologis dapat digunakan untuk mendeteksi suatu kenaikan titer antibodi, terutama ELISA.

Epidemilogi :
Rotavirus adalah satu-satunya penyebab utama gastroenteritis pada anak-anak yang penting diseluruh dunia. Angka perkiraan berkisar antara tiga sampai 5 milyar episode diare pada anak-anak dibawah usia 5 tahun di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, dan menyebakan sebanyak 5 juta kematian. Negara-negara manju mempunyai angka kesakitan yang tinggi tetapi angka kematiannya rendah. Khususnya, 50-60% kasus gastroenteritis akut pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit di seluruh dunia disebabkan oleh rotavirus.
Infeksi rotavirus biasanya dominan selama musim dingin. Infeksi bergejala paling sering terjadi pada anak-anak antara umur 6 bulan sampai 2 tahun, dan penularan tmapaknya terjadi melalui jalan fecal-oral. Sering juga terjadi infeksi nosokomial. Rotavirus ada dimana-mana. Mulai usia tiga tahun, 90% anak-anak mempunyai antibodi serum terhadap satu tipe atau lebih. Prevalensi antibodi rotavirus yang tinggi ini, terpelihara pada orang dewasa, didorong oleh infeksi ulang subklinis oleh virus. Baik manusia ataupun hewan dapat terinfeksi bahkan pada saat adanya antibodi humoral. Faktor imun setempat, seperti IgA sekresi atau interferon, penting dalam perlindungan terhadap infeksi rotavirus. Dengan kata lain, infeksi ulang pada saat terdapat antibodi sirkulasi dapat mencerminkan adanya serotipe virus yang banyak. Infeksi asimtomatis sering pada bayi kurang dari 6 bulan, waktu dimana selama itu antibodi maternal yang didapat secara pasif oleh bayi baru lahir seharusnya ada. Infeksi neonatal demikian tidak mencegah infeksi ulang, tetapi dapat melindungi dari bertambah beratnya penyakit selama infeksi ulang.

ORBOVIRUS
Orbivirus biasanya menginfeksi serangga, dan kemudian di tularkan ke vertebrata lain oleh serangga. Terdapat sekitar 100 serotipe yang telah dikenal. Virus ini tidak menyebabkan penyakit yang serius pada manusia, tetapi mereka bisa menyebabkan demam. Patogen binatang yang serius diantaranya adalah virus lidah biru pada domba dan virus penyakit kuda Afrika. Antibodi terhadap orbivirus ditemukan pada banyak vertebrata termasuk manusia. Genom mengandung 10 segmen RNA untai ganda, dengan ukuran total genom 18 kbp. Siklus replikasi sama dengan reovirus. Orbivirus peka terhadap pH rendah, berlawanan dengan stabilitas rata-rata reovirus lainnya.

Iklan

Manihot esculenta (Singkong)

Oleh :

Sinta Sasika Novel

Manihot esculenta yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau singkong atau ubi kayu, dalam bahasa Inggris bernama cassava merupakan tumbuhan dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.

Manihot esculenta tidak memiliki bercabang atau bercabang sedikit dengan tinggi rata-rata 1,5-7 m. Batang dengan tanda berkas daun yang bertonjolan. Umbi akar besar, memanjang, kulit berwarna coklat. Tangkai daun 6-35 cm, helaian daun dekat pangkal, tipe daun menjari.

Bunga dalam tandan yang tidak rapat, 3-5 terkumpul pada ujung batang, pada pangkal dengan bunga betina, lebih atas dengan bunga jantan.Tenda bunga tunggal, panjang 1 cm.Bunga jantan : tenda bunga bentuk lonceng, bertaju 5, benang sari 10, berseling panjang dan pendek, tertancap sekitar penebalan dasar bunga yang kuning dan berlekuk.

Bunga betina: tenda bunga berbagi 5, bakal buah dikelilingi oleh tonjolan penebalan dasar bunga yang kuning, berbentuk cincin, tangkai putik bersatu, pendek dengan kepala putik yang lebar berwarna mentega dan berlekuk banyak.

Buah bentuk bola telur dengan 6 papan yang membujur,biji dengan alat tambahan berlekuk pada pangkalnya.Di Amerika yang Tropis banyak ditanam sebagai tanaman pangan yang sangat penting.

Tanaman ini lebih dikenal dengan nama Manihot utilissima Pohl. Beberapa beracun karena mengndung kadar asam cyan yang tinggi, dimana umbinya sama sekali tidak dapat dipergunakan sebagai makanan.

Hanya setelah mengalami perlakuan tertentu dapat dimakan, jenis ini dapat digunakan dalam pembuatan tepung. Daun yang muda dapat dimakan sebagai lalab.Makanan yang sehat dan sangat disenangi adalah yang dinamai peuyeum atau tape yang dibuat dengan meragi umbi yang sebelumnya telah direbus.

Merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan.

Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat racun bagi manusia.

Umbi singkong merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus justru terdapat pada daun singkong karena mengandung asam amino metionin.

Ciri-ciri Virus

oleh :

Sinta Sasika Novel, S.Si

Virus di dunia ini sangat banyak ragamnya, virus bervariasi dalam hal struktur, organ genom, ekspresi maupun strategi replikasi dan transmisinya. Demikian pula dengan inang untuk satu virus, bisa sangat luas atau juga bisa sangat terbatas. Virus diketahui bisa menginfeksi organisme bersel satu seperti mikoplasma, bakteri, alga, dan semua binatang atau tanaman tingkat tinggi. Istilah dan definisi di dalam virologi :

(1)    kapsid, mantel protein yang membungkus genom asam nukleat

(2)    Kapsomer, unit morfologi yang terlihat dengan mikroskop elektron, terletak di atas permukaan ikosahedral partikel virus. Kapsomer mewakili kluster-kluster polipeptida tetapi unit morfologik tersebut secara kimiawi bukan menjadi bagian penting batas dari unit struktur.

(3)    Virus lemah, senuah partikel virus yang secara fungsional mengalami kekeurangan dalam beberapa aspek replikasi.

(4)    Amplop, sebuah membran lipid yang mengelilingi partikel virus. Ini diperoleh melalui proses pertunasan yang menembus membran sel selama pematangan virus. Glikoprotein yang dikodekan oleh virus ditunjukkan di atas permukaan amplop. Proyeksi ini disebut dengan peplomers.

(5)    Nukleokapsid, suatu kompleks protein asam nukleat yang meakili bentuk bungkus gen virus. Istilah ini biasanya digunakan dalam kasus dimana nukleokapsid adalah substruktur dari kompleks partikel virus yang lebih banyak.

(6)    Unit struktur, protein dasar yang membentuk dinding mantel. Struktur ini biasanya terdiri dari kumpulan lebih dari satu sub unit protein yang tidak sama (non identik). Unit struktur ini sering dianggap sebagai sebuah protomer.

(7)    Sub unit, sebuah rantai polipeptida virus yang terkumpul menjadi satu.

(8)    Virion, partikel virus lengkap

Virus memiliki karekteristik (1) hanya memiliki satu jenis asam nukleat (RNA atau DNA), sedangkan sel memiliki kedua jenis asam nukleat, (2) tidak memiliki sistem sintesis sendiri (tidak memiliki ribosom), (3) tidak melakukan metabolisme makanan untuk menghasilkan ATP, (4) beberapa virus memiliki amplop (envelope) tetapi bahan yang digunakan untuk membuat amplop tersebut bersala dari membran inangnya, dan (4) tidak terpengaruh oleh antibiotik. Sejumlah virus hewan menyebabkan berbagai penyakit yang relatif ringan sampai penyakit ganas yang mengancam jiwa seperti kanker.

Sifat-sifat berikut ini telah digunakan sebagai dasar untuk mengklasifikasikan virus. Sejumlah informasi yang tersedia di dalam setiap kategori tidak sama pada semua virus. Cara perincian virus berubah dengan cepat. Mengurutkan gen, sekarang ini sering dilakukan dalam identifikasi awal virus dan perbandingan dengan data dasar dapat menyingkirkan kebutuhan akan data klasik yang lain (berat jenis virion, dsb) :

  1. Morfologi virion, meliputi ukuran, bentuk, jenis tangkup, ada tidaknya amplop.
  2. Bagian-bagian gen virus, meliputi: jenis asam nukleat (RNA atau DNA), ukuran gen dalam kilobase (kb) atau kilobase pair (kbp), untaian (tunggal atau ganda), apakah linear atau sirkuler, sense (positif, negatif, ambisense), segmen (jumlah, ukuran), deretan nukleotid, isi G+C, adanya fitur khusus (elemen berulang, isomerisasi, cap terminal 5’, terminal 5’ protein yang terangkai secara kovalen, terminal 3’ jalur poli A)
  3. Bagian-bagian fotokimia virion, meliputi: banyaknya molekul, berat jenis, stabilitas pH, stabilitas suhu dan tingkat pengaruhnya terhadap agen fisik dan kimiawi, khususnya ether dan deterjen.
  4. Bagian-bagian protein virus, meliputi: jumlah, ukuran, dan aktivitas fungsional dari protein struktural dan nonstruktural, deretan asam amino, modifikasi (glikosilasi, fosforilasi, miristilasi) dan aktivitas fungsional khusus (transkriptase, neuramiridase, aktivitas penggabungan/fusi).
  5. Bagian-bagian antigen
  6. Organisasi dan replikasi gen, meliputi: jenis gen jumlah dan posisi kerangka pembacaan terbuka, strategi dari replikasi (pola transkripsi, translasi) dan tempat sel (akumulasi protein, kerapatan virion, pengeluaran virion).
  7. Bagian-bagian biologi, termasuk: kisaran alami inang, cara penularan, hubungan dengan vektor, patogenitas tropisme jaringan, dan patologi.

Virus

Posted on: Mei 11, 2009

Virus

oleh :

Sinta Sasika Novel, S.Si

Virus adalah mikroorganisme nonselular yang merupakan parasit obligat sehingga virus memerlukan sel inang agar dapat bereproduksi. Virus dikenal agen infeksius terkecil dengan diameter anatara 20 nm sampai kira-kira 300 nm yang hanya mempunyai 1 jenis asam nukleat RNA atau DNA sebagai genom mereka. Asam nukleat terbungkus mantel protein yang dikelilingi oleh membran dari lipid. Unit infeksi secara keseluruhan disebut virion. Dalam lingkungan ekstraseluler virus akan diam (inert).

Virus hanya akan mengalami replikasi di dalam sel hidup dengan menjadi parasit pada tingkat gen. Asam nukleat virus menfandung informasi penting untuk bisa menghasilkan keturunannya yaitu dengan cara memprogram sel inang yang diinfeksinya agar mensintesis makromolekul virus spesifik. Setiap siklus replikasi menghasilkan asam nukleat dan mantel protein virus dalam jumlah yang banyak. Mantel protein virus bergabung bersama-sama membentuk kapsid yang berfungsi membungkus dan menjaga stabilitas asam nukleat virus terhadap lingkungan ekstraseluler. Selain itu juga berfungsi untuk mempermudah penempelan serta penetrasi virus terhadap sel inang. Infeksi virus terhadap sel inang yang dimasukinya bisa menimbulkan efek ringan bisa juga tidak menimbulkan efek sama sekali namun mungkin juga bisa membuat sel inang rusak atau bahkan mati. Asal mula virus tidak diketahui dengan pasti, terdapat perbedaan yang mendalam di atara virus RNA dan virus DNA. Ada dua teori asal mula virus yaitu :

  1. Virus mungkin bersal dari DNA aatau dri RNA, komponen asam nukleat sel inang. Kemudian virus ini dapat melakukan replikasi secara autonom dan lambat laun secara independen. Virus mirip dengan gen yang diambil isinya sehingga virus akan muncul menjadi sel yang independen. Beberapa jenis virus berhubungan dengan bagian gen sel yang memberi kode protein pada daerah ujung fungsional. Beberapa virus terkecil mungkin mengalami evolusi dengan cara ini.
  2. Virus mungkin mengalami degenerasi bentuk dari parasit intraseluler. Namun begitu tidak ada bukti bahwa virus berevolusi dari bakteri, walalupun organisme intaseluler obligat yang lain bisa terjadi seperti rickettsia dan chlamidia, tetapi virus pox terlalu besar dan kompleks dimana mereka mungkin mewakili hasil evolusi dari beberapa sel nenek moyang.

Seminar dan Penyuluhan kanker serviks

Menerima permintaan sebagai pembicara untuk seminar dan penyuluhan kanker serviks

hubungi : kikyo_novel@yahoo.com

Profesor Termuda di Amerika

oleh :

Sinta Sasika Novel, S.Si

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia . Kenapa?

Nelson Tansu lahir di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia .

Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk “pulang”. Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia . Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika , ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia . Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia . Ia menyatatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?

Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di US atau Singapore , gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia . Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia . Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk “cari makan”.

Infeksi HPV dan Kesehatan Wanita Masa Kini

Oleh :

Sinta Sasika Novel

Kanker serviks atau dikenal dengan kanker leher rahim merupakan salah satu penyebab utama kematian wanita yang berhubungan dengan kanker. Setiap tahunnya di dunia lebih kurang terjadi 500 ribu kasus kanker leher rahim dan separuh diantaranya tidak tertolong terutama di negara berkembang, seperti Indonesia. Kanker leher rahim disebabkan oleh infeksi HPV (Human Papilloma Virus) yang diketahui juga sebagai virus yang menginfeksi kulit dan membran mukosa manusia.

Di seluruh dunia, ada lebih dari 440 juta individu dengan infeksi HPV. Setiap tahun lebih dari 500 ribu terdapat kasus kanker leher rahim, sebagian besar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada tahun 2003 sampai 2004, setiap waktu 80% wanita terinfeksi HPV umur 50 tahun dan dari 9 juta wanita yang telah melakukan hubungan seksual umur 15-24 tahun juga terinfeksi sedikitnya satu jenis HPV, hal ini dikarenakan infeksi HPV biasanya tanpa disertai gejala sehingga banyak orang yang tak menyadari kalau dirinya terinfeksi kanker leher rahim.

HPV memiliki hampir 100 tipe yang masing-masing diberi nomor untuk membedakan satu dengan yang lainnya. Sekitar 85 tipe telah teridentifikasi dengan menggunakan teknik sekuensing DNA. Ke-85 tipe tersebut dibedakan atas HPV high risk dan HPV low risk. HPV yang dapat menyebabkan kanker adalah HPV genital tipe 16, 18, 31, 35, 39, 45, 51, 52, dan 58. Lebih dari 75% kanker serviks disebabkan HPV tipe 16 dan 18.

HPV dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak normal yang disebut displasia, displasia inilah yang dapat berkembang menjadi kanker. Kanker leher rahim berasal dari 90% sel skuamosa (sel-sel yang melapisi leher rahim) dan 10% berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran yang menuju uterus. Sel yang terinfeksi HPV menyebabkan metabolisme selnya menjadi tidak normal sehingga menyebabkan perubahan terhadap sel-sel normal menjadi sel-sel yang abnormal. Para dokter menyebut sel abnormal tersebut sebagai pra-kanker sedangkan perubahan awal pra-kanker pada permukaan sel disebut displasia atau lesi intra epithelial squamosa. Banyaknya kasus yang terjadi menyebabkan perlu dicari berbagai metoda pemeriksaan agar dapat dideteksi dini sehingga efektif terhadap kanker yaitu dengan Pap Smear dan deteksi DNA HPV.

Teknik Deteksi Kanker leher rahim

Banyak teknik yang digunakan untuk mendeteksi kanker serviks sejak dini. Teknik-teknik tersebut diantaranya teknik Pap smear, IVA, Kolposkopi, PCR, dan HC-II.

Tes Pap Smear adalah suatu tes yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel epitel serviks. Test ini ditemukan pertama kali oleh Dr. George Papanicolou, sehingga dinamakan Pap smear test. WHO merekombinasikan semua wanita yang telah menikah atau telah melakukan hubungan seksual untuk menjalani pemeriksaan Pap smear minimal setahun sekali sampai usia 70 tahun. Pap smear sreening dapat mengidentifikasi adanya potensi prekanker, pemeriksaan sitologi konvensional ini digunakan untuk merupakan pemeriksaan untuk melihat sel-sel epitel serviks dengan pengambilan sampel sel yang dibuat preparat dan dilihat di bawah mikroskop. Pengamatan tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi sel-sel serviks apakah masih normal atau sudah mengalami perubahan.

Beberapa sel abnormal dapat menjadi pre-kanker dan dapat berubah menjadi sel-sel kanker. Perubahan sel-sel epitelium serviks yang terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker.

Tes DNA HPV adalah suatu tes berbasis molekular dimana tes ini bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya virus tersebut di dalam tubuh kita. Terdapat dua teknik untuk mengetahui ada tidaknya virus penyebab kanker, yaitu dengan PCR dan HC-II. PCR (Polymerase Chain Reaction), pertama kali dikembangkan oleh Kary Mullis pada tahun 1985. Pada tahun 1990 Ting dan Manos telah mengembangkan suatu metode deteksi HPV dengan PCR. Teknik HC-II (Hybrid Capture® II), teknik ini yang merupakan teknologi terbaru dibidang biologi molekuler. HC-II pada intinya adalah melakukan teknik hibridisasi yang dapat mendeteksi semua tipe HPV high risk pada seseorang yang diduga memiliki virus HPV dalam tubuhnya. Penggunaan teknik komputerisasi dilakukan untuk pemeriksaan di tingkat DNA dan RNA, apakah terdapat kemungkinan pasien tersebut sudah terinfeksi HPV. Jika teknik Pap smear memeriksa adanya perubahan pada sel (sitologi), teknik HC-II memeriksa pada kondisi yang lebih awal yaitu terdapatnya kemungkinan seseorang terinfeksi HPV di dalam tubuhnya sebelum virus tersebut membuat perubahan pada serviks yang akhirnya dapat mengakibakan terjadinya kanker serviks.

Tes DNA HPV dengan PCR atau HC-II yang dipadukan dengan test sitologi seperti Pap smear telah diketahui bahwa metode tersebut merupakan metode yang paling efektif untuk mendeteksi tanda awal kanker serviks.


kalender

Juli 2018
S S R K J S M
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Iklan